Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin
Allaahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad
Ya Allah
Sepanjang menyusuri langkah
Sejauh mata memandang
Sungguh indahnya
Beraneka dedaunan
Warna warni kembang
Kupu kupu dan ilalang
Kutengadahkan ke langit
Kulirik rembulan, awan
Kurasakan getaran di dada
KebesaranMu Wahai Tuhanku
Angin berhembus
Deburan ombak
Ayam berkokok
Burung berkicau
kami adalah pernak pernik
diantara pernak pernik
Ya Allah Ya Robb
Jadikanlah dalam setiap langkah kami
pandangan kami, pendengaran kami, ucapan kami
perasaan kami yang terluar
hingga terdalam
Penuh hidayah, penuh hikmah
Menuju ampunan dan ridho Mu.
Aamiin.
lu2k.3r
dlm angan, 29 Desember 2016
Rabu, 28 Desember 2016
Minggu, 25 Desember 2016
DI ATAS SAJADAH
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin, Allaahumma
sholli wa sallim 'alaa sayyidinaa Muhammad
Ya Allah, Pemilik Siang dan Malam
Raja seluruh alam jagad raya
Dalam setiap linangan air mata
Kami bersimpuh padaMu Ya Ilaahi
Sadari siapakah diri ini
Sadari rendahnya diri
Sadari kehinaan diri
Sadari kebodohan diri
Sadari kesombongan diri
Sadari kedholiman diri
Ya Allah, jangan Kau jadikan kami
Seperti buih dalam lautan
Buih yang terombang ambing
Dalam lautan godaan setan
Terperangkap dalam gelembung kenistaan
dunia
Ya Allah, firman2 yang kami baca
Jadikan cahaya bagi kami
Dalam kegelapan dunia dan saatnya
nanti
Ampuni kebodohan kami
Ampuni kedholiman kami
Ampuni kesombongan kami
Ridhoilah hidup mati kami, Langkah
kami
Jiwa raga kami, UntukMu ya Ilahii
Yang Maha Kasih.
Aamiin.
lu2k.3r
menunggu shubuh, 22 Des 2016
GETARAN HATI
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Ya Allah, kami bersyukur atas segala
limpahan Rahmat dan karuniaMu pada kami
Sholawat serta salam semoga senantiasa
tercurah pada kekasihMu Baginda Rasulullah Muhammad saw beserta para keluarga,
sahabat, dan pengikut2 nya Hatta Yaumil akhir. Aamiin.
Ya Allah...
Dalam hati yg hampa, hanya Engkau yang
kami damba
Dalam jiwa yang gersang, hanya Engkau
dalam angan
Dalam kebelengguan, hanya Engkau
pemberi harapan
Dalam keraguan, hanya Engkau yang
penuh kepastian
Ya Robb, jangan Kau lepaskan kami
walau sekejap mata
Belailah kami dalam dekapan kasihMu ..
Jiwa raga beserta nafsu2 kami dalam
genggamanMu.
Jagalah kami dalam kasihMu...ya robbal
'aalamiin.
Aamiin.
lu2k.3r
di ujung pagi, 15 Des 2016
Selasa, 06 Desember 2016
NIGHT CLUB
Saat aku menatap..
Merenung...
Memandang...
Merasa....
Ah sungguh betapa hinanya diriku...
Betapa rendahnya...
Betapa bodohnya...
Yaa Robb...
Airmataku sungguh nikmat
Saat kuingat Engkau
Menangis dalam bahagia..
KasihMu...
Tiada kenal siang ataupun malam
Tiada beda kemarau ataupun hujan
Tiada lelah saat sadar atau tak sadar
Yaa Robb...
Ingatkan selalu jika diri ini terlupa...
Jelaslah banyak lupa...
Yaa Tuhanku...
Yaa Tuhanku..
Yaa Tuhanku...
ALLAHUMMA SHOLLI WASALLIM WA BAARIK 'AALAIH...
lu2k.3r
Grezic, 8 Dec 2016
01.06
SARAN DAN APLIKASI PERSONAL STRENGTH
#Pengingat Setelah Membaca
#Edisi Nyithet
1. Ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, baik di dalam shalat atau di dalam do'a lainnya, ucapkanlah dengan perlahan-lahan, berupayalah untuk memperoleh makna dari ucapan tersebut, yaitu untuk :
a. Menetapkan misi kehidupan anda.
b. Membulatkan tekad untuk hanya bersujud kepada Allah
c. Menyerap dan mengingat sifat-sifat Allah yang luhur
d. Menerapkan sifat-sifat mulia tersebut dalam keseharian, dengan mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW
e. Tanamkan komitmen untuk memegang teguh Rukun Iman dan Rukun Islam
f. Berjanjilah sungguh-sungguh kepada Allah untuk mematuhi janji atau syahadat yang anda ucapkan tersebut dengan sepenuh hati
2. Lakukanlah sholat lima waktu dengan disiplin dan khusyu'. Shalat anda justru akan meningkatkan produktifitas apabila anda tinggalkan pekerjaan anda untuk sesaat (kurang lebih 5 menit). Anda butuh relaksasi ketika waktu sholat tiba. Pikiran Anda akan kembali jernih setelah itu dan kembali cerdas (fitrah).
"Sholat adalah seutas tali yang panjang" yang berfungsi sebagai penuntun keberhasilan hingga akhir hayat anda, jangan pernah lepaskan tali penuntun itu.
3. Lakukanlah puasa wajib (pada bulan Ramadhan) dan puasa sunnah untuk meningkatkan kemampuan kendali diri anda. Lakukan pekerjaan sehari-hari seperti biasa pada saat anda berpuasa. Jangan mempergunakan puasa sebagai dalih untuk bermalas-malasan dengan alasan lapar dan haus
#Edisi Nyithet
1. Ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, baik di dalam shalat atau di dalam do'a lainnya, ucapkanlah dengan perlahan-lahan, berupayalah untuk memperoleh makna dari ucapan tersebut, yaitu untuk :
a. Menetapkan misi kehidupan anda.
b. Membulatkan tekad untuk hanya bersujud kepada Allah
c. Menyerap dan mengingat sifat-sifat Allah yang luhur
d. Menerapkan sifat-sifat mulia tersebut dalam keseharian, dengan mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW
e. Tanamkan komitmen untuk memegang teguh Rukun Iman dan Rukun Islam
f. Berjanjilah sungguh-sungguh kepada Allah untuk mematuhi janji atau syahadat yang anda ucapkan tersebut dengan sepenuh hati
2. Lakukanlah sholat lima waktu dengan disiplin dan khusyu'. Shalat anda justru akan meningkatkan produktifitas apabila anda tinggalkan pekerjaan anda untuk sesaat (kurang lebih 5 menit). Anda butuh relaksasi ketika waktu sholat tiba. Pikiran Anda akan kembali jernih setelah itu dan kembali cerdas (fitrah).
"Sholat adalah seutas tali yang panjang" yang berfungsi sebagai penuntun keberhasilan hingga akhir hayat anda, jangan pernah lepaskan tali penuntun itu.
3. Lakukanlah puasa wajib (pada bulan Ramadhan) dan puasa sunnah untuk meningkatkan kemampuan kendali diri anda. Lakukan pekerjaan sehari-hari seperti biasa pada saat anda berpuasa. Jangan mempergunakan puasa sebagai dalih untuk bermalas-malasan dengan alasan lapar dan haus
Sabtu, 31 Oktober 2015
BERAPA LAMA KITA DI KUBUR ?
Awan
sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang
kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es
krim Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi,sementara
tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.Yani dan ayahnya
memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan
kemudian duduk di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1905:20-01-1965". "Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk
nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tanganayahnya yang
mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya.
Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya..."Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah?" Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya. "Hmm, berarti neneksudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... " Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910" "Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?" Ayahnya tersenyum, "Lalu?" "Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur .... ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya..."Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah?" Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya. "Hmm, berarti neneksudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... " Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910" "Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?" Ayahnya tersenyum, "Lalu?" "Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur .... ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Pulang
dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan
apa yang dikatakan anaknya ... 36 tahun ... hingga sekarang... kalau
kiamat datang 100 tahun lagi ....136 tahun disiksa .. atau bahagia di
kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata ... Kalau ia
meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi
berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un
... air matanya semakin banyak menetes.....
Sanggupkah
ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan.. kalau
2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di
kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah?
Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia
sudah tak tahan?
Ya
Allah ...ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya
naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri
jenggotnya..... Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di
bacanya doa itu hingga suaranya serak ... dan ia berhenti sejenak ketika
terdengar batuk Yani. Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan
bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu,
betapa sang bapak sangatberterima kasih padanya karena telah
menyadarkannya .. arti Sebuah kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya...
SUMBER : http://ceritaceritabagus.blogspot.co.id/2006/12/berapa-lama-kita-dikubur.html
SUMBER : http://ceritaceritabagus.blogspot.co.id/2006/12/berapa-lama-kita-dikubur.html
DETIK-DETIK RASULULLAH MENJELANG SAKARATUL MAUT
Detik-detik Rasulullah SAW menjelang Sakaratul maut,Ada sebuah kisah
tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan
Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning burung-burung
gurun pun enggan mengepakkan sayapnya.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah:
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat
itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita
semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir
usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda
itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap
Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh
sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau
bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah
Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang
terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah
kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar
seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril
tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu
dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu,”
Di
luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling
berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“umatku, umatku, umatku”
dan….PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU………
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?
SUMBER : http://ceritaceritabagus.blogspot.co.id/2006/12/detik-detik-rasulullah-saw-menjelang.html
Langganan:
Postingan (Atom)